Kamis, 14 Februari 2013

PROFIL : Marolop L. Tobing (Ucok)


Lahir 15 Mei 1979 di desa “Aek Tampang”, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dengan dibantu bidan, kondisinya tidak normal karena pada umumnya bayi menangis ketika lahir sedangkan  Ucok diam tidak bersuara. Orangtua dan kerabat sangat cemas melihat peristiwa tersebut dan halaman rumah sudah digali untuk menguburkan si Ucok yang dianggap tidak normal tersebut. Beruntunglah ada seorang tua yang memberi solusi.

Besar di lingkungan yang brutal – desa Aek Tampang dikenal sebagai daerah rawan, dan keluarga yang tidak harmonis. Keadaan ekonomi keluarga yang terbatas, membuatnyaini ikut mencari nafah sejak SMP: menjadi tukang, semir – jadi preman. Ia pernah membantu sang ibu yang bekerja di perkebunan Karet. Tiba-tiba tumpukan karet ratusan kilo rubuh dan menguburnya hidup-hidup. Sang ibu yang melihat peristiwa terebut menjerit dan mengira buah hatinya ini sudah meninggal. Tetapi untuk kedua kali Ucok selamat dari maut. Kondisi pergaulan yang “liar” membuatnya jauh dari jalan Tuhan dan suatu saat puluhan orang menghakiminya dan sudah pasrah jika seandainya itu menjadi hari terakhirnya di bumi ini. Tetapi untuk ketiga kalinya dia masih Selamat dengan bantuan seorang pendeta. Pendeta itu bernama LR Siagian (alm). Gembala GPSDI, tempat ibunya berbakti. Peristiwa ini menjadi titik balik pertobatan-nya.

Ia berangkat ke Semarang dan kuliah di AKASALOM (Akademi Alkitab Salom) di Puri Anjasmoro, sampai tahun 2001. Setelah tiga tahun di sana, ia ke Jakarta. Pada tahun 2002-2005 melayani di GBT Tuberta, Bekasi. Tanggal 13 Juli 2005, dia menikahi Elriani Nababan, diberkati di GPSDI Sidempuan oleh Pdt. LR Siagian. Kini mereka dikaruniai dua orang putra  yaitu: Gabriel Aprian Alonso dan Gamaliel Octafiani Tobing.

Dari peta perjalanan hidupnya pak Marolop berkesimpulan : Tuhan telah menyelamatkan hidup kita, maka sudah selayaknya hidup ini kita persembahkan kepada Tuhan. Persembahan yang sejati adalah kehidupan kita seutuhnya. (Roma 12:2). Kita ada untuk Tuhan bukan Tuhan ada untuk saya. Jadi melayani Tuhan merupakan suatu kesukaan. Jangan ada maksud tersembunyi di dalam hati kita saat melayani Tuhan (Matius 7:21-23). Jangan pernah mengira jika melayani Tuhan maka kita akan mendapat keistimewaan dalam atau kita mendapatkan kemudahan dalam hidup ini. Problema dalam hidup tetap ada, namun Tuhan tak pernah meninggalkan kita, hal inilah yang membuat kita tetap kuat dan tetap semangat melayani Tuhan Yesus. Maju terus K3R.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar