Kamis, 07 Mei 2015

GEMBALA DALAM PERSIAPAN KHOTBAHNYA (The Pastor in His Sermon Preparation)



Oleh Dr. W. A. Criswell
Alih bahasa oleh Wisma Pandia, Th.M.
Editor Dr. Eddy Peter Purwanto


Beberapa waktu yang lalu saya diminta oleh editor dari majalah Moody Monthly untuk menulis gambaran tentang bagaimana saya mempersiapkan kotbah. Saya tetap mengikuti pemikiran dan pandangan yang telah saya pegang selama bertahun-tahun. Sebagaimana seorang pendeta melakukannya, saya telah belajar banyak selama pertengahan abad melalui apa yang sudah saya kotbahkan dan yang saya pelajari, yang telah menjadi padat dan mengkristal baik di dalam saya belajar maupun didalam mempersiapkan kotbah, yang sekarang menjadi sebuah bagian dan sebuah bingkisan dalam kehidupan saya sehari-hari.  Hal itu akan dijelaskan dalam  di dalam bagian ini.

Pendeta Digerakkan oleh Kebenaran

Apa itu berkotbah? Mengapa ia berbeda dari kuliah? Dari konseling? Dari mengajar? Apa yang menyusun kotbah sehingga ia berbeda dari ceramah-ceramah lainnya?
Jawabannya sangat sederhana. Berkotbah ditujukan kepada kehendak, hati nurani dan tujuan utamanya adalah untuk menggerakkan jiwa sesuai dengan kehendak Allah dan kehendak surga. Pengkotbah melakukan hal ini secara literal dan terlepas dari ungkapan orang tentang kebenaran Allah.
Di dalam menyampaikan kotbah, saya merasa berada dalam kehidupan yang sesungguhnya dari materi yang saya gambarkan. Bahkan dalam mempersiapkannya, saya tinggal dalam kebenaran ini. Tidak ada pengalaman yang lebih menarik daripada seorang pengkotbah sejati yang membentangkan  visi yang menakjubkan dari kekayaan Allah di dalam Kristus Yesus.

Kedalamaman dari Kebenaran Doktrinal yang Diperlukan

Pada zaman modern terlihat jelas kemunduran yang signifikan dari kotbah yang bersifat doktrinal.  Kita telah menjadi  terbiasa, sangat dialektikal, sangat oikumene, dan sangat cemas untuk megkotbahkan tanda tanya kita dan keraguan intelektual bahwa kita khawatir untuk mengajarkan jemaat kita tentang kedalaman arti dan kebenaran dokrinal firman Tuhan.
Namun bagaimanapun disana ada kotbah doktrinal yang kuat, selalu ada sebuah gereja yang sehat dan kuat. Kotbah penginjilan Perjanjian Baru dipenuhi dengan doktrin yang luar biasa yang digambarkan dan dilukiskan oleh Tuhan kita –kehidupan Kristus, kematian Kristus, kebangkitan Kristus, kedatangan Kristus, kekuatan penebusan  dari Kristus, keberdosaan manusia, kebutuhannya akan seorang juruselamat,  dan pentingnya seruan untuk datang kepadaNya sebagai Tuhan dan Allah.
Kotbah kita butuh kedalaman, kekuatan dan penekanan doktrinal dan cara untuk memperolehnya adalah dengan pembelajaran yang panjang dan doa yang sungguh-sungguh.

Hasil Terbaik dalam  Penjelajahan  Homelitika

Hasil terbaik dari penjelajahan homelitika yang pernah saya lakukan namun sederhana dan efektif adalah dengan mengurutkan sumber-sumber materi yang saya miliki. Saya telah memberi nomor pokok dari buku-buku kotbah dan sejumlah volume yang saya dapat. Lalu saya menempatkannya dengan sebuah teks dalam Alkitab yang memiliki margin besar, nomor dari buku dan bagian yang didiskusikan dalam teks yang saya temukan. Hal ini akan membuka saya kedalam literatur yang luas tentang firman Allah yang saya temukan.
Diawal ketika saya mulai berkotbah, saya berpikir bahwa saya telah memintal semuanya dalam pikiran saya, terlepas dari kedangkalan saya dan sumber-sumber yang tidak lengkap. Saya berpikir bahwa saya telah sunguh-sungguh dan sempurna di dalam setiap pemikiran dan kotbah saya. Tanpa sebuah kekhawatiran bahwa kotbah saya sangat dangkal seperti air yang meresap ke dalam pasir.
Hampir selama dua ribu tahun orang-rang yang memiliki karunia dari Allah telah berdoa, mengajar dan menuliskan ungkapan mereka yang diinspirasikan. Jadi, gunakan pikiran mereka di dalam belajar.
Pergunakanlah perpustakaan anda dengan baik. Hal itu akan menjadi suatu kelebihan bagi saya untuk dapat berbicara panjang lebar tentang pentingnya bagi seorang pengkotbah untuk mempelajari Alkitab dengan semua bantuan dari konkordansi, tafsiran, ayat-ayat, bahasa, artikel-artikel, kotbah-kotbah, pengalaman hidup dan semua materi yang dapat membangun. Tetapi pembelajaran merupakan esensi yang paling utama.
Bacalah semua hal. Semua hal dapat menyentuh kehidupan yang menjadi perhatian seorang pengkotbah. Dari suratkabar harian, majalah, komentar radio, editorial –dari semua kreasi-  pengkotbah memiliki kesempatan untuk membawanya kedalam pesan yang akan disampaikan, kekayaan dari hal-hal itu dan komentar-komentar yang ada didalamnya akan membantu untuk menjelaskan arti firman Tuhan.
Berusahalah untuk selalu menjadi pendengar yang baik.  Ketika anda berbicara, anda tidak sedang mempelajari apa-apa. Tidak seorangpun yang dapat memiliki lidah perak tanpa terlebih dahulu memiliki sebuah telinga emas.

Pendeta Mengkhotbahkan Alkitab

            Bagi saya, cara yang terbaik dalam berkotbah adalah dengan mengambil dari kitab demi kitab dalam Alkitab, bagian demi bagian, paragraph demi paragraph, ayat demi ayat, lalu sampaikan di hadapan jemaat dengan sebuah empati dan keyakinan,”Allah berfirman!”  Ada suatu ketika di Dallas, saya mulai berkotbah dari kitab Kejadian 1:1 hingga ayat terakhir dari kitab Wahyu. Dan itu memakan waktu selama tujuh belas tahun delapan bulan, tetapi hal itu sangat positif dan merupakan suatu hal yang sangat bernilai dalam kehidupan saya.
            Dalam suatu kesempatan lain, dalam suasana Tahun Baru, saya mulai berkotbah dari pukul 7.30 dengan ayat pertama dari kitab Kejadian hingga keseluruhan Alkitab, dan berlangsung hingga tengah malam. Aula kami merupakan salah satu yang terbesar di Amerika dan sangat padat ketika saya mulai berkotbah dan tetap padat dengan orang-orang yang berdiri disekeliling tembok bagian atas dan bagian bawah bahkan ketika saya selesai pada saat tengah malam (Broadman Press menerbitkan kotbah yang panjang itu dengan judul “The Scarlet Thread Through the Bible).
            Mengkotbahkan Alkitab merupakan sesuatu yang tidak ada badingannya di dalam berkotbah. Orang-orang datang ke gereja untuk mengetahui apakah Alah menyampaikan sesuatu terhadap mereka. Pengkotbah mempelajari pesan Allah dari penyingkapan Allah sendiri dan penyingkapan yang ada dalam Alkitab. Lalu ia berdiri di atas batu karang yang kokoh, berkotbah tanpa tergoyahkan, firman Tuhan yang kekal.

Pendeta Harus Mengikuti Roh Kudus

Saya akan ilustrasikan mengapa saya selalu mengikuti pikiran Roh Kudus daripada pikiran-pikiran lain. Dalam beberapa tahun belakangan ini, saya telah berkotbah tentang kehidupan Yesus di kebaktian minggu malam. Saya mengikuti seri kehidupan Yesus melalui harmonisasi keempat Injil. Namun setelah beberapa tahun berlalu ketika saya ingin berkotbah tentang penebusan dan kemuliaan kebangkitan, saya tersadar bahwa saya terlalu banyak menghabiskan waktu di awal pelayan Kristus, 
Lalu hal itu datang kepada saya, yaitu apa yang telah Roh Kudus lakukan dalam menyusun kitab-kitab di dalam Alkitab. Ada kisah tentang kehidupan Kristus, dan gambaran yang hebat tentang kematian dan kebangkitanNya. Setelah itu Roh Kudus memulai kisah itu lagi dan memimpin hingga kepada kematian dan kebangkitan Kristus. Lalu Roh Kudus melakukan hal yang sama lagi dan sekali lagi. Selama empat kali Dia memulai cerita tentang kisah Kristus dan memimpin hingga kematian dan kebangkitanNya.
Melihat hal itu, lalu saya mengoreksi kesalahan saya, memberitahukan jemaat tentang penilaian saya yang salah dalam memberangkatkan Alkitab. Saya mengumumkan bahwa saya akan mengikuti perintah sebagaimana yang telah diberikan oleh kebijaksanaan Roh Surgawi kepada kita, di dalam Buku yang telah diinspirasikan. Kemudian sekarang saya mengkotbahkan Injil satu demi satu dan sebagaimana seseorang berkata,”Selalu dibuat di dalam Yesus,” bawa mereka kembali dan kembali kepada salibNya dan kebangkitanNya.

Sebuah Ilustrasi dalam Persiapan Khotbah

            Di Minggu pagi saat menulis buku ini, saya sedang mengkotbahkan surat Efesus. Baru-baru ini saya berkotbah dalam Efesus 4:30. Judul dari kotbah itu adalah “Mendukakan Roh Kudus.”  Di suatu Hari Tuhan, saya telah berkotbah dari Efesus 4:32: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
            Inilah cara bagaimana saya mempersiapkannya. Pertama, saya membaca teksnya dalam bahasa Yunani, jika seorang pengkotbah tidak mengerti bahasa Yunani, dia dapat membaca bagian itu dalam beberapa terjemahan dan mengambil ide yang paling baik dari bahasa aslinya.  Dari bahasa Yunani saya belajar bahwa kesimpulan dari bagian itu tidak berada di akhir pasal 4 tetapi berlanjut hingga Efesus pasal 5:2. Sebagai pendahuluan dari kotbah, bagaimanapun, saya menyampaikannya sesuai dengan teks yang ada dalam konteksnya. Itu merupakan sebuah cara yang baik untuk memulai.
            Di dalam Efesus 5:1, Paulus menyatakan bahwa kita adalah tekna agapeta,”anak-anak yang terkasih.” Dalam 1 Yohanes 4:8 Yohanes memanggil Allah agape, “kasih.” Kita sangat berharga, dikasihi, diinginkan, berdoa untuk anak-anak Allah. Sebagaiman Paulus mengajak kita untuk menjadi sama seperti Bapa kita. Dia berkata,”jadilah kamu menjadi pengikut-pengikut Tuhan. Kata yang diterjemahkan sebagai “pengikut-pengikut” adalah mimitai yang mana didalam bahasa Inggris kata itu adalah mimic (dalam bahasa Indonesia kata ini bisa diartikan sebagai peniru, atau mimik). Kita menjadi mimik atau tiruan dari Bapa Surgawi kita.
            Jika kita menjadi tiruan Bapa kita, seperti apakah Dia dan apa yang Dia lakukan? Bagiamana kita dapat meniru Dia? Kata “sebab itu” dalam Efesus 5:1 mengacu kepada keselurahan ayat yang diatas. Saya membaca Efesus 4:32 merupakan perintah untuk mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang tiruan Bapa Surgawi kita.  Seperti apakah Allah? Ayat yang indah itu menyatakan bahwa Dia merupakan peramah dan pemaaf.
            Kotbah lalu beranjak untuk membicarakan kebaikan Allah, kebaikan Kristus dan kebaikan dari orang-orangNya. Dibawah tiga poin ini, mengikuti pengantar yang telah disebutkan sebelumnya, saya mencari di Alkitab materi untuk ilustra dan menjalankan pesan. Saya menemukan bahwa saya telah menemukan materi yang cukup selama beberapa jam. Kemudian saya memilahnya dan menggunakan ilustrasi yang sangat mengesankan.
            Dalam poin yang ketiga, berbicara tentang kebaikan dari manusia Allah. Saya mencatat hal-hal yang dibutuhkan untuk sebuah dorongan dan simpati. Di sini saya menemukan ilustrasi yang tajam didalam kehidupan penyair Sir Walter Scoot (yang didorong oleh Bobby Burns)dan Gypsy Smith (yang didorong oleh Ira D. Sankey). Lalu saya berbicara, bagaimana kebaikan ini memberkati gereja, membuat kehangatan, bermurah hati, dan bersahabat. Terakhir saya berbicara bagaimana hal itu memberkati dan memenangkan orang yang terhilang. Mereka lebih digerakkan oleh karena kebaikan hati,  kasih dan perhatian yang penuh belas kasihan, daripada sikap yang dingin dari teologi yang benar.  Lalu saya berseru kepada untuk orang-orang yang terhilang, kepada mereka yang kami doakan agar menyerahkan hati mereka kepada Yesus.
            Ada suah prinsip disini. Jika anda memiliki sesuatu untuk disampaikan, jangan khawatir, anda akan menemukan cara untuk menyampaikannya. Jika anda bergerak, para pendengar akan bergerak. Jika kebenaran Allah membakar hati anda, ia juga akan membakar hati para para jemaat.

Bentuk Akhir dari Khotbah dan Persiapan untuk Penyampaian

            Doa yang sungguh-sungguh dalam mempelajari Alkitab akan membawa sebuah pesan kedalam hati anda. Hal ini tidak akan pernah gagal. Allah akan melakukannya untuk anda. Dalam mengkotbahkan Alkitab seorang pendeta akan tidak akan terhindarkan dari sentuhan isu-isu yang berkaitan dengan kehidupan dan keadaan manusia. Berdoa dan mempelajari Alkitab hingga pesannya lahir di hati anda. Beri ia nafas, judul yang menarik. Bagi menjadi tiga, empat atau lima poin. Hubungkan pesan dengan kebutuhan jemaat.
            Didalam melengkapi dan mengingat kotbah didalah pikiran dan hati anda, pelajari secara interval. Lakukan pekerjaan lain dalam minggu itu. Ingat, bahwa bekerja terlalu lama dia atas meja kan membuat diri anda merasa bodoh.
            Terakhir, ketika kotbah sudah selesai,  bayangkan kembali kotbah anda sebelum anda pergi tidur. Secara psikologi, pikiran anda akan menjalankan kotbah anda. Hal itu akan menjadi sebuah bagian dari anda.  Sebelum anda pergi berkotbah, bayangkan kembali, jika mungkin berdoalah untuk tiap-tiap poinnya. Lalu berdirilah, percaya kepada Allah, dan lakukan. Roh Kudus akan melakukan tugasnya.

Buku-Buku yang Dianjurkan dalam Mempelajari Khotbah

Di sini ada beberapa buku tentang persiapan kotbah, dan berkhotbah yang akan memberkati pendeta.

Jay E. Adams, Studies in Preaching, Presbyterian and Reformed, 1976.
J. Daniel Bauman, An Introduction to Contemporary Preaching, baker, 1972.
H.C. Brown, Jr., H. Gordon Clinard, and Jesse J. Northcutt, Steps to Sermon,
 Broadman, 1963
B.H. Carrol, The Three Baptism, Evangell Press, 1957.
E. C. Dargan, A History of Preaching, baker, 1967.
Eric W. Hayden, Preaching Through the Bible, Zondervan, 1964.
Charless Koller, Expository Preaching Winthout Notes, Baker, 1962.
Clarence E Macartney, Preaching Winthout Notes, Abingdon, 1946.
G. Campbell Morgan, Preaching,  Marshall, Morgan, and Scott, 1955.
A.T. Robertson, The Minister and His Greek New Testament, Baker, 1977.
William E. Sangster, The Craft of Sermon Construction, Epworth Press, 1964
________________,  The Craft of Sermon Illustration, Baker, 1973
C.H. Spurgeon, An Allround Ministry, Banner of Truth, 1972
V.L. Stanfield, Effective Evangelistic Preaching, New Orleans Baptist
 Theological Seminary, 1965
            Merril F. Unger, Principles of Expository Preaching, Zondervan, 1955
            Wayne E. Ward, The Word Comes Alive, Broadman, 1969